Buka-buka.com – Kepulauan Togean selama ini lebih banyak dikenal melalui keindahan laut, gugusan pulau, terumbu karang, serta pesona bawah lautnya yang menjadi daya tarik wisata.
Namun, di balik keindahan alam tersebut, tersimpan cerita panjang tentang masyarakat, sejarah, tradisi, budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal itulah yang coba diangkat dalam sebuah buku berjudul “Wajah Lain Togean: Catatan Perjalanan dari Kepulauan Togean” yang ditulis oleh seorang anak muda yang bernama Fadlan Harun kelahiran Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una.
Buku tersebut lahir bukan dalam waktu singkat. Penulis membutuhkan waktu kurang lebih empat tahun untuk melakukan perjalanan, mengumpulkan informasi dan menelusuri berbagai sumber mengenai kehidupan masyarakat di Kepulauan Togean.
Perjalanan itu sekaligus menjadi proses panjang yang tidak selalu mudah. Berbagai cerita dan informasi harus dikumpulkan dari masyarakat dengan latar belakang berbeda, mulai dari generasi muda hingga orang tua yang masih menyimpan pengetahuan dan ingatan tentang sejarah serta kehidupan di wilayah kepulauan tersebut.
Dalam kata pengantarnya, penulis menjelaskan bahwa Kepulauan Togean tidak hanya berbicara mengenai keindahan laut dan gugusan pulau. Togean juga memiliki masyarakat, sejarah, tradisi dan pengetahuan yang menjadi bagian penting dari identitas daerah.
Buku ini mengajak pembaca melihat Togean dari perspektif yang berbeda. Sejumlah kisah mengenai asal-usul masyarakat, kerajaan, perpindahan penduduk, ritual, kehidupan sehari-hari hingga kehidupan masyarakat Sama Bajo menjadi bagian dari catatan perjalanan yang dihimpun penulis.
Cerita-cerita tersebut bersumber dari percakapan dengan masyarakat, pengamatan langsung serta penelusuran berbagai sumber tertulis. Dengan demikian, buku ini tidak sekadar menjadi catatan perjalanan, tetapi juga menjadi upaya untuk merekam pengetahuan dan ingatan masyarakat Togean di tengah perubahan zaman.
Menjaga Ingatan Generasi Muda
Kehadiran buku ini menjadi penting, khususnya bagi generasi muda Tojo Una-Una agar mengenal daerahnya tidak hanya dari sisi pariwisata, tetapi juga memahami sejarah dan budaya lokal yang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Kepulauan Togean.

Penulis berharap karya tersebut dapat menjadi tambahan pengetahuan sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk lebih mengenal, menghargai dan menjaga warisan budaya daerah.
Empat tahun perjalanan dalam menyelesaikan buku ini tentu memiliki suka dan duka. Kesulitan mendapatkan data, menemui berbagai sumber serta menggali cerita dari masyarakat menjadi bagian dari proses panjang hingga akhirnya buku tersebut dapat diterbitkan.
Bagi Fadlan kepada Buka-buka.com , terbitnya “Wajah Lain Togean” menjadi sebuah pencapaian tersendiri setelah melewati proses panjang tersebut. Apa yang dikerjakan selama empat tahun diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah buku, tetapi dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat dan generasi muda.
Fadlan juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama proses penulisan hingga buku tersebut terbit, termasuk para sahabat yang terus menemani dan memberikan dukungan sejak proses awal hingga karya itu akhirnya dapat dinikmati pembaca.
Tentu juga ucapan terima kasih kepada Reconnect Thomas Despin yang ikut memberikan kontribusi terhadap terhadap buku ini , dan Bapak Yasin Labente Tokoh Masyarakat Togean selaku Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) yang ikut memberi kontribusi sumbang fikiran soal judul buku
“Wajah Lain Togean” pada akhirnya bukan hanya sebuah buku tentang perjalanan. Ia merupakan upaya seorang anak muda kelahiran Ampana untuk merekam sisi lain Kepulauan Togean tentang manusia, sejarah, budaya dan ingatan yang hidup di tengah masyarakat.
Sebab, mengenal Togean tidak cukup hanya dengan melihat keindahan lautnya. Di balik setiap pulau, terdapat cerita; di balik setiap masyarakat, terdapat sejarah; dan di balik setiap tradisi, terdapat pengetahuan yang patut dijaga.***

